Tampilkan postingan dengan label son naeun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label son naeun. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 Juni 2013

My Plastic Surgery (Part 1)

 
Author : Anisa
Genre : Teen, 14+, romance
Cast : Kim Jong In , Son Na eun
( I hope I can post every week ^^)
And I hope First Love second marriage part 3 will finish soon so I can post it on July :D

Do you still remember, the day we’ve met for the first time?
I still remember, you’re laughing with your pretty lips
On that day I vowed that I will never let you go
– VIXX Love Letter

“Aku membencinya, sangat membencinya !!” suara teriakan masih menggema di kamar bernuansa ungu itu . Na eun, gadis berumur 16 tahun itu masih saja memukul-mukul boneka anipang-nya.
“Aku membencimu Kim Jong In !!!!”
Dia menangis, sepertinya semua sia-sia saja . Seseorang yang sangat ia harapkan selama sepuluh tahun terakhir ini telah menghancurkan hatinya hanya dalam waktu beberapa detik.
“ Apa kau tahu? Aku sangat membeci seorang gadis yang melakukan operasi plastik” Kata-katanya masih terngiang jelas ditelinganya. Perkataan yang memang bukan ditujukan untuknya, tepatnya untuk Ji Hyun sahabatnya pagi ini telah merubah semua pandangan baik ke namja itu. Namja yang selama ini ia puja-puji bahkan sampai memimpikannya di malam hari ternyata tidak akan lagi sama seperti enam tahun yang lalu kepadanya.

Jong In’s POV
Aku masih mengingat kejadian yang terjadi tadi pagi.
Kenapa gadis itu memarahiku sambil menangis? Apa aku mengenalnya? Matanya seperti seseorang yang kukenal. Tapi siapakah dia?
*Flashback on*
Aku tak tahu kenapa semua gadis disini selalu berteriak dan heboh saat melihatku. Sebenarnya aku sangat terganggu dengan teriakan mereka. Ditambah dengan puluhan surat cinta yang selalu kudapatkan setiap paginya di dalam lokerku. Aku bukanlah seorang artis, apalagi member boyband yang virusnya saat ini sedang mewabah ke seluruh dunia. Aku hanyalah seorang siswa biasa.
BRUKK~
    Tiba-tiba ada seorang yeoja yang menabrakku.
    “Mian, mianhe”katanya sambil membereskan bukunya yang tercecer.
    “Gwaencahana” jawabku lagi tanpa membantu membereskan bukunya.
    “Oppa terimalah ini” yeoja itu tiba-tiba mengeluarkan sepucuk surat yang dibungkus dengan amplop berwarna-warni dengan motif love yang besar dibagian depannya.
    “Maaf aku tidak bisa menerima ini” jawabku lagi.
    “Oppa.. sarang-hae...” kata yeoja itu lagi.
    Jinja, aku sudah terbiasa dengan hal ini. Hampir setiap hari para yeoja mengutarakan cinta mereka padaku. Aku sebenarnya tak tahu kenapa hal ini bisa terjadi. Apakah ini efek dari sudah tidak adanya perbedaan gender di dunia ini? entahlah.
    “Apa kau melakukan operasi plastik?” tanyaku to the point.
    “N....nde, waeyo? ” jawabnya terbata.
    “Asal kau tahu aku paling benci dengan gadis yang melakukan operasi plastik. Jadi jauh-jauhlah dariku”
    Yeoja itu menitikkan air mata saat aku mengutarakan hal itu. Kenapa aku benci operasi plastik? Disaat akhir-akhir ini operasi plastik memang mewabah dinegaraku, aku malah membencinya. Kenapa? Karena aku tidak suka kepada orang-orang yang takpernah bersyukur apa yang telah Tuhan berikan kepadanya.Selain itu karena kejadian buruk yang baru saja menimpaku beberapa bulan yang lalu menjadikanku sangat membenci operasi plastik.
    “Kau !! Kim Jong In . Orang yang menganggap dirinya paling sempurna !! Apakah itu alasanmu menolaknya? Karena dia melakukan operasi plastik ha? Hahahaha, kau sungguh munafik!!!”Tiba-tiba seorang yeoja-yang kuduga teman dari yeoja tadi datang dan memarahiku.
    “Ne. Kenapa? Kau keberatan? Sepertinya kau juga baru saja melakukan operasi plastik, Terlihat sekali dagu dan hidungmu itu”
    “Ne , memang benar aku juga melakukan operasi plastik hampir diseluruh wajahku, but I’m fine. Dan untunglah aku bukan salah satu dari penggemar gilamu itu. Mereka sudah buta mata dan batinnya karena sudah mengidolakan seseorang yang berhati dangkal sepertimu” lanjutnya lagi sambil menghapus air matanya dengan punggung tangannya dan menghilang didepanku.
*Flashback off*
    Kenapa aku berbuat seperti itu? Ini karena kejadian yang menimpa kakak tiriku Jessica. Dia diadopsi ketika orangtuaku takkunjung mendapatkan buah hati setelah dua tahun pernikahan. Meskipun begitu , aku sangat menyayanginya. Dia lebih tua empat tahun dariku.
    Kejadian itu bermula ketika sembilan bulan yang lalu Jessica akan melakukan pembedahan plastik pada pipi dan membuat lapisan pada kelopak matanya. Sayangnya, operasi itu gagal karena malpraktek dokter bedahnya. Akibatnya Jessica koma selama satu bulan karena menderita pendarahan diwajahnya sampai akhirnya dia menutup matanya untuk selamanya.
Jong In POV ends

Naeun POV
    “Apa kau sudah bertemu dengan Jong In?” kata eomma membuyarkan lamunanku.
    “Em..belum eomma. Aku lupa bagaimana wajahnya” jawabku berbohong.
    “Oh, mungkin dia sudah tumbuh menjadi seseorang yang tampan” kata eomma lagi.
Yaps, kuakui eomma memang benar, tapi tampan mukanya tak menjamin tampan hatinya !!!
“Oiya,sekedar mengingatkan besok keluarga Kim mengundang kita untuk pergi ke rumahnya, perayaan pindah rumah baru. Kau bisa ikut kan?”
Aku tak ingin bertemu dengan namja itu lagi titik.
“Mianhe eomma ternyata aku tidak bisa.Mungkin eomma bisa mengajak Sung Jun. Aku sudah janji untuk mengerjakan tugas kelompokku” kataku berbohong lagi.
“Aduh sayang sekali, padahal ini adalah pertemuan kita setelah enam tahun yang lalu keluarga Kim pindah.
“Mianhe eomma “ jawabku lagi.
***
Pagi ini aku kembali masuk sekolah, tapi entah kenapa semua orang melihatku dengan aneh. Ahh entahlah, mungkin karena kejadian kemarin. Masa bodohlah aku sudah memutuskan untuk menjauh dari namja yang bernama Kim Jong In itu.
“Na eun-ah mianhee. Karena aku kamu jadi topik pembicaraan disekolah ini” kata Ji Hyun menyesal.
“Gwaenchana~ aku lebih kuat dari yang kau bisa pikirkan” jawabku.
Ya tentu saja. Aku bukanlah tipe yeoja yang gampang menyerah. Sejak kejadian itu dan operasi plastikku berhasil aku sudah janji pada diriku, aku tidak akan menyia-nyiakan hidupku lagi.
“Kalau kau butuh apa-apa atau ada orang yang kurang ajar kepadamu beritahulah aku” katanya lagi.
“Haha.. tenang saja aku sudah sabuk hitam dalam karate  dan jika aku memberitahumu, apakah kau bisa membantuku?” tanyaku.
“Anio.. tapi setidaknya aku bisa menyuruh sopirku” jawabnya lagi
“Hahahaha...”
Naeun POV ends

Jong In POV
    “Apa kau sudah tahu siapa nama yeoja itu?” tanyaku kepada Yong Sik.
    “Namanya Son Na eun , dia tinggal di Grand Society” jawab Yong Sik.
    “Gangnam? “gumamku.
    “Ne, sepertinya dia anak orang kaya, pantas saja dia melakukan operasi plastic sampai diseluruh mukanya” kata Yong Sik lagi.
    Son Na eun? Aku belum pernah mendengar namanya sebelumnya. Dia , matanya terlihat seperti seseorang yang aku kenal dengan marga yang sama, Son. Tapi dia tidak bernama Na eun tetapi  Son Ji Na, yeoja yang selama ini aku tunggu.
***
    Sore ini adalah sore yang paling kunantikan. Sore ini keluarga Son akan datang kerumah. Beberapa hari yang lalu eomma bertemu dengan son ajhumma di salah satu pusat perbelanjaan. Satu bulan setelah kepindahan kami, tiba-tiba keluarga Son tidak bisa dihubungi lagi. Dan ternyata mereka pindah rumah tanpa memberitahukan kepada kita. Selain itu pada saat yang sama mobile phone milik satu keluarga hilang karena ada perampok yang menggesek habis-habisan semua perabot kami pada saat itu.
    Pesta berlangsung cukup meriah. Rumah baru ini memiliki halaman yang luas di belakang rumah. Jadi eomma membuat garden party disana. Pesta sudah dimulai beberapa menit yang lalu. Keluarga, Saudara dan teman kerja eomma dan appa sudah hadir, tapi keluarga Son belum juga hadir malam ini.
    “Kenapa kau sangat gelisah sekali? Apa ada yang mengganggu pikiranmu” kata eomma menyadarkan lamunanku.
    “Ah..aniyo. Aku hanya teringat sesuatu saja eomma. Tapi tenanglah itu sama sekali tidak penting. Eomma ada yang datang lagi. Mari kita sapa” jawabku sambil melingkarkan tanganku di pinggangnya dan membawa ke kerumunan tamu yang baru saja datang.
“Keluarga Son, akhirnya kau datang juga !! Aku pikir kau lupa dengan undanganku kala itu. Saat itu aku juga lupa menyerahkan kartu namaku kepadamu” kata eomma memeluknya.
Keluarga Son? Apakah Keluarga Ji Na? Langsung saja kuamati mereka. Tapi kenapa mereka hanya bertiga? Sepasang suami istri dan anak lelaki mereka? Apakah ini keluarga Son yang lain?
“Jong In kemarilah~”kata eomma memanggilku.
“Apa kau masih ingat dengan keluarga Son ? Mereka tetangga kita saat kita tinggal di Daegu”
Aku tidak salah dengar? Tetangga yang tinggal di Daegu?Tidak salah lagi,tapi kemana Ji Na?
Aku membungkukkan badan sembari memberi salam kepada mereka dan berbasa basi menyanyakan keadaan mereka.
“Jong In sekarang sudah tumbuh sangat besar, sudah melebihi tinggimu hyung” kata Son ajhumma.
“Ne, aku juga heran kenapa anak jaman sekarang sangat cepat tingginya ya?” jawab appa disusul tanya jawab ringan antara eomma dan song ajhumma.
“Oiya, kenapa aku tidak melihat Ji na?” kata eomma tiba-tiba, dan aku langsung refleks memperhatikan percakapan mereka.
“Mianhe eonni, Ji Na sudah ada janji dengan teman sekelasnya untuk mengerjakan tugas” jawab Song ajhumma.
Apa? Ji Na lebih memilih mengerjakan tugasnya daripada bertemu denganku? Ternyata yeoja yang selama ini aku tunggu sudah sama sekali tidak peduli lagi kepadaku.
Sejak tahu Ji Na tidak datang ke pesta aku memutuskan untuk masuk kekamar dan tidur. Aku sudah terlanjur bad mood karena hal itu. Tiba-tiba eomma masuk kekamarku dan langsung memegang dahiku.
“ Gwaenchana? Apa kau sakit?” kata eomma mencemaskanku.
“Ani, aku hanya pusing sedikit eomma” jawabku.
“Apa pestanya sudah selesai?” tanyaku sambil melirik kearah jam digitalku yang ada dimeja.
“Nde, oiya apa kau tidak pernah bertemu dengan Ji Na disekolah?” kata eomma tiba-tiba.
“Mwo? Ji Na satu sekolah denganku?” tanyaku kaget.
“Nde, tadi eommanya bercerita jika tahun ini Ji Na masuk sekolah denganmu. Apa kau tidak pernah sekalipun bertemu dengannya?” kata eomma lagi.
“Ani..” jawabku sambil mencoba mengingat apakah ada yeoja disekolahku yang bernama Ji Na.
“Apa eomma tahu dimana rumah tempat tinggal keluarga Son sekarang?”
“Aduhh eomma lupa, kemarin eomma hanya meminta nomer teleponnya saja tanpa meminta kartu nama atau alamat ruamahnya”
***
Paginya aku langsung mencari tahu nama Son Ji Na di daftar penerimaan siswa baru yang baru saja aku dapatkan dari Yong Sik.
“Kau aneh sekali semalam, kenapa kau tiba-tiba ingin tahu tentang daftar semua anak baru? Aishh.. jangan-jangan kau sedang mengincar seorang yeoja ya?”tanyanya menggodaku.
“Apa hanya ini yang kau dapatkan?” tanyaku lagi sambil terus membolak-balikkan lembaran kertas nama ini.
“Hanya itu. Data itu sudah lengkap. Apa kau tidak menemukan namanya?” tanyanya lagi.
Didata ini yang bernama Ji Na ada lima orang . Tapi dari kelima nama itu marga mereka bukan Son. Aku semakin bingung. Apakah ada kesalahan saat petugas administrasi mengetik nama mereka? Entalah. Tapi aku harus menyelidiki kelima nama ini.
Jong In’s POV end

Na Eun’s POV
Pagi ini entah ada kejadian apa disekolah, tapi tiba-tiba sekolah menjadi sangat ramai. Aku melangkahkan kaki ke dalam kelas dan OMO.... Kenapa Jong In berada di dalam kelas? Ada apa lagi dengannya? Dia sedang duduk di tempat duduk Ney teman sekelasku dan sepertinya sedang menunggu seseorang masuk.
“ Itu dia orangnya” kata temannya menunjuk ake arah Ney.
Seketika Jong In berjalan menuju kearah Ney dan mendekatinya. Wajahnya hanya berjarak tak kurang dari 5 inch dari wajah Ney.
“Bukan dia orangnya” dia berkata kepada temannya dan kemudian pergi dari kelasku .
Kejadian aneh itu ternyata tidak hanya terjadi di kelasku saja . Sudah lima orang di angkatanku menjadi korban keanehan Jong In. Para korban itupun tak-tahu menahu kenapa Jong In mendatanginya dan menatapnya seperti itu.
***
“Ji Na tolong bukakan pintu, tangan eomma penuh dengan tepung” kata eomma berteriak kepadaku yang sedang berada di ruang tengah yang memang tak jauh jaraknya dari dapur bersih.
Siapa yang bertamu saat liburan seperti ini? Tidak mungkin itu teman-teman tengil Sung jun yang datang karena dia sedang mengikuti study tour di Hongkong. Teman eomma? Tidak mungkin seorang psikolog sibuk sempat berkunjung. Apakah teman appa? Tidak mungkin, mereka tidak akan datang jika appa tidak dirumah. Temanku? Sampai saat ini aku belum punya teman dekat jadi tentu saja bukan temanku.
Saat aku melihat kearah layar, ternyata layar ini belum juga dibenahi. Aku mengutuk kenapa petugas itu belum juga datang padahal sudah dua hari ini sejak eomma menelfonnya.
“Mianhe, nuguya?” tanyaku.
“Aku mengantar pesanan Son ajhumma” jawabnya
Seorang kurir? Eomma memesan sesuatu?
“Baiklah tunggu sebentar” kataku sambil menutup intercom dan keluar rumah.
Saat-saat liburan seperti ini sangatlah menyusahkan untukku. Pembantu dan satpam rumah izin untuk merayakan Lunar bersama keluarganya, sedangkan pembantu dan satpam sementara baru akan datang kerumah sore ini untuk bekerja beberapa hari ke depan.
Saat aku membuka gerbang rumah, namja itu seketika menjatuhkan barangnya.
“K-Kau Son Ji-Na?” tanyanya
Na Eun’s POV end
Jong In’s POV
“Jong In-ah bangunlah~” kata eomma sambil menarik selimut dari tubuhku.
“Sebentar lagi eomma, aku masih ingin tidur”
“Tolong antarkan cupcake ini kerumah Son ajhumma”
Seketika aku langsung bangun saat mendengar kata “Rumah Son Ajhumma”.
“Apa eomma sudah tahu dimana rumahnya?”
“Tentu saja. Cepat mandi dan antrakan ini”
Aku langsung mengambil handukku dan mandi secepat mungkin. Aku sangat penasaran dengan Ji Na. Eomma mengatakan dia bersekolah ditempatku, tapi aku sampai saat ini belum pernah melihatnya.
Kupacu ninjaku secepat mungkin ke grand society pagi ini. Aku tidak kaget jika Ji Na tinggal disana. Orangtuanya sangat kaya. Appanya yang merupakan seorang surgeon yang sudah expert dibidangnya dan sangat terkenal diseluruh dunia, dan eommanya yang seorang psikolog yang saat ini bekerja sama dengan WHO dalam menangani masa rehabilitasi seusai menderita penyakit.
Saat aku menekan tombol interkom, terdengar suara yeoja menjawab
“Mianhe, nuguya?” tanyanya.
“Aku mengantar pesanan Son ajhumma” jawabku.
 “Baiklah tunggu sebentar” katanya lagi.
Saat yeoja itu keluar rumah, betapa terkejutnya aku, karena yeoja itu adalah yeoja yang tempo hari menangis dan memakiku didepan banyak orang. Refleks aku menjatuhkan cupcake buatan eomma.
“K-Kau Son Ji-Na?”tanyaku .
“Ne” jawabnya tanpa ada sedikitpun rasa gugup diwajahnya. Justru yang terlihat adalah amarah yang sangat besar dimatanya.
“Eh Jong In , mari masuk. Ji Na kenapa kau tak menyuruhnya masuk” kata son ajhumma sambil memegang tanganku dan menariknya masuk.
“Nne ajhumma”
***
Suasana di ruang tamu saat ini sangat kikuk. Ji Na menatapku dengan tajam seakan mengintimidasiku.
“Eomma , aku ada janji dengan temanku siang ini, maafkan aku meninggalkan kalian berdua” kata Ji Na meminta ijin keluar tiba-tiba.
“Ohh jinja? Padahal Jong In baru saja datang. Apa kau tidak ingin mengobrol dengannya?”
“Ani.. tak ada yang ingin kubicarakan juga dengannya” jawabnya sambil membungkuk sebentar kepadaku kemudian meninggalkan aku dan ajhumma sendirian.
“Mianhe Jong In. Dia menjadi sedikit keras kepala sekarang” kaat ajhumma meminta maaf padaku.
“Gwaencahana ajhumma, tapi apakah aku boleh bertanya, kenapa Ji Na berganti nama menjadi Na Eun? Dan maaf kenapa wajahnya berbeda?”
Song ajhumma kemudian menceritakan semua hal yang terjadi setelaha ku pindah saat itu. Dia menangis saat mengingat kejadian waktu itu.
“ Aku tak menyangka Ji Na sekuat itu, dia tumbuh menjadi anak yang kuat “ katanya sambil menangis.
Jong In’s POV end

Naeun menyeka air matanya. Dia masih ingat sekali ketika Jong In memakinya dan menghinanya karena dia melakukan plastic surgery dihadapan banyak orang saat itu. Na Eun menaiki subway kearah Incheon tanpa tahu dimana dia akan berhenti nantinya.
*Flashback *
“Oppa apa kau akan pergi lama?” tanya seorang anak perempuan itu kepada temannya.
“Ne, Na eun-ah tapi jangan khawatir. Yaksok, Oppa akan menemuimu ketika oppa pulang nanti” janjinya kepada gadis itu sambil membuat simpul janji dengan jari manisnya.
“Aku tak yakin bisa mengingatmu lagi. Kau tahu kan aku sangat buruk dalam hal mengingat” jawabnya sambil memonyongkan bibirnya yang tipis itu.
Kemudian dia berlari masuk kedalam mobil sambil membawa sebuah bola sepaknya.
“Apa ini ?” tanyanya.
“Ini bolaku, aku akan menyerahkan kepadamu. Jadi kau bisa ingat terus wajahku ”
“Ha? Ini kan bola kesukaanmu oppa...”
“Iya, jadi kau harus menyimpannya arra? Jangan sampai bola itu hilang saat aku kembali nanti” potongnya sambil mengacak-acak rambut gadis kecil didepannya itu.
“Ne, arra” jawabnya sambil tersenyum lagi.
“Tapi apa kau tidak akan memberiku sesuatu? Bisa saja aku lupa dengan wajahmu itu”
“Hmm, anii. Aku yakin kamu pasti mengenaliku. Lagipula sayang sekali jika aku harus menyerahkan koleksi barbie-ku kepadamu oppa” gadis itu tertawa sambil mehrong kearah namja itu.
****
“Eomma apa kau melihat dimana bolaku yang aku letakkan di atas almari?” tanyanya sambil celingukan menyari bola itu disudut rumahnya.
“Bola berwarna merah itu? Oh , eomma melihat Sung Jun membawa bola itu keluar”
Seketika Ji na langsung berlari keluar rumah dan sedang mendapati adik laki-lakinya itu sedang bermain dengan bolanya.
“Sung Jun ! Cepat kembalikan bola nuna!” teriaknya sambil mencoba merebut bola itu dari tangan Sung Jun.
“Tidak boleeeeh” tangan Sung Jun masih memeluk bola itu.
“Itu milik nuna Sung Jun !” kata Ji Na lagi sambil mencoba merebut bola itu lagi. Alhasil terjadilah saling rebut-merebut bola di halaman itu , dan duk duk.. bola itu malah keluar pagar karena terjadi tarikan yang sama sama kuat dari kedua sisi.
Naeun langsung berlari keluar rumah untuk mengambil bola itu.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa............ prang...”
Ji Na tertabrak truk yang sedang lewat. Dia terluka sangat parah dan kehilangan banyak darah. Bahkan mukanya pun terluka sangat banyak. Eommanya bahkan histeris saat pertama kali melihat wajah anaknya. Sangat buruk, bahkan bisa dibilang buruk rupa!!
Setelah kejadian itu Ji Na sangat malu untuk bepergian, apalagi untuk sekolah. Setelah menderita berbulan-bulan dirumah sakit karena ada 3 tulangnya yang patah, kini dia harus menahan malu karena wajahnya sangat buruk rupa.
Karena melihat penderitaan anaknya yang berlarut-larut, eomma dan appanya memutuskan untuk menempuh jalur operasi plastik untuk memulihkan wajah Ji Na. Mungkin hasilnya tidak akan sama seperti wajah aslinya, tapi setidaknya tidak akan seburuk rupa seperti yang sekarang.
Selama dua tahun lebih Ji Na keluar-masuk ruang operasi untuk memperbaiki wajahnya. Rasa sakit jarum suntik sudah seperti makanan pokok baginya. Selain kesembuhan dia juga takmau kelak saat bertemu dengan Jong In dia tak mau melihatnya karena wajahnya yang buruk rupa.Dengan bantuan kenalan appanya, dokter yang menanganinya memang benar-benar expert dalam bidangnya sehingga hasilnya tidak usah diragukan lagi.
Setelah keluar dari rumah sakit pun Ji Na memutuskan untuk pergi ke Jepang untuk lebih memulihkan keadaannya . Orangtuanya pun memutuskan mengganti namanya menjadi Na Eun berharap anaknya akan terhindar dari malapetaka.
*flashback end*
 

Selasa, 09 Oktober 2012

The curse of the moon - Part 1


Author : Hyun Ann

Cast :
Myungsoo
Son Naeun
Extended cast : you will know after reading ^^
Happy reading :D

Myungsoo POV
Ini bukanlah zaman dinasti joseon, ini bukanlah zaman dimana kita membutuhkan api harus dengan menggosok dua buah batu atau kayu. Ini adalah abad 21 dimana kau bisa menemukan apapun disini , bekerja tanpa harus bekerja keras karena semua teknologi ini.  Ini adalah abad 21 yang sepenuhnya bisa dijawab dengan akal dan logika .

Musim-musim liburan seperti ini sungguh menguntungkan buatku. Setiap liburan aku bekerja part-time disebuah agen pariwisata. Aku bekerja sebagai guide disana. Tahun lalu aku pergi ke jeju dan lumayanlah dari hasil part-time aku bisa membeli beberapa barang yang precious “Mwo? Ajushi bisakah aku tidak ditempatkan disana?”



“Mianhe, hanya tempat itu saja yang sisa tahun ini” jawabnya sambil membuka-buka lembar portofolio didepannya.

“Kau tidak mau?” tanyanya lagi.

“em..mm baiklah aku akan mengambilnya” jawabku.

“Baguslah, ini adalah beberapa buku yang harus kau pelajari tentang tempat itu. Dan kamu sudah bisa bekerja mulai minggu depan.” katanya sambil menyodorkan 4 buah buku tebal kepadaku.

Aku tidak keberatan harus belajar 10 buku sekalipun untuk menjadi seorang guide yang profesional. Ini berbeda. Tahun ini hanyalah tempat itu saja yang tersisa. Di Myungdong , ya aku mendapatkan     tempat itu, tempat dimana deretan kuil-kuil dan rumah-rumah peninggalan zaman dinasti Joseon yang masih ada dan terus dilestarikan oleh pemerintah.

Jujur aku paling benci dengan sejarah . Mata kuliahku yang menyangkut sastra sungguh mendapat  nilai buruk. Aku sama sekali tidak peduli sejarah. Toh sejarah hanyalah masa lalu kita dan tidak bisa berbuat apa-apa untuk masa kini karena lagi-lagi sejarah adalah masa lalu.

Hari Pertama. Tak kusangka pengunjung tempat ini sangatlah banyak --____-- Awalnya aku cukup ragu dengan para pengunjung disini, tapi sepertinya semua itu terjawab. Sepertinya liburan kali ini cukup untung mempertebal dompetku kekeke~

Dari yang sudah kupelajari sejak seminggu lalu tentang tempat ini, tempat ini memiliki luas sekitar 2 Ha, dengan 8 bangunan asli sejak jaman Joseon yang terdiri dari 1 kuil, 4 rumah Raja, dan sisanya adalah tempat para selir. Dari semua itu pengunjung paling tertarik dengan legenda Kuil Moon . Yang dikatakan di buku itu-entah benar atau tidak-jika ada dua orang yang saling mencintai saling berpegangan tangan kemudian berdoa disana, diyakini pasangan itu akan saling setia satu sama lain hingga ajal menjemput. Tapi ada syarat mutlak jika keinginan itu ingin terkabul, pasangan itu harus saling percaya pada kekuatan Dewi Moon yang ada di Kuil itu. Jika salah satu/dua-duanya  tidak percaya kekuatan dewi moon, niscaya tidak sampai satu hari pasangan itu pasti putus.

Para wisatawan asing juga sangat tertarik dengan legenda ini, aku sangat heran kenapa orang luar negeri seperti mereka masih percaya dengan legenda aneh itu. Tapi yang lebih aneh lagi, selain menyimpan kekuatan ekstra kuil moon juga menyimpan legenda besar yang tersimpan dalam dua pedang di kedua sisi dalamnya. Penjaga kuil itu juga sepertinya sangat melindungi kedua benda itu. Sampai-sampai guide pun dilarang keras memeganya. Jujur saja aku belum sempat menyelesaikan membaca tentang legenda itu.

Hari kedua kali ini aku disewa oleh salah satu sekolah menengah atas daerah Busan yang secara khusus datang kesini untuk study tour. Setelah memperkenalkan diri ke para siswa dan guru, kemudian beberapa gadis perempuan datang menghampiriku.

“Apa kau guide kita?” kata segerombol  gadis perempuan kepadaku.

“Ne” jawabku sambil tersenyum.

“Bolehkah kita memanggilmu oppa?” katanya malu-malu.

“Eh..em..e..nde” jawabku lagi.

Aku tidak menyangkal aku memang tampan ^^ tapi seringkali muka tampanku ini memang membantu, tapi kadang-kadang juga membuatku terganggu seperti saat ini. Aku serasa bukan seperti guide bagi mereka, tapi lebih tepatnya aku terlihat seperti Idol yang sedang dikejar-kejar sasaeng  sekarang. Tuhan tolong berikan aku kekutan menjalankan hari ini ~

“Huh akhirnya selesai juga untuk hari ini” kataku sambil meneguk sebotol minuman mineral yang ada ditasku.

“6 p.m”gumamku sambil melirik handphoneku , saat aku mulai membereskan barangku dan berkemas, tiba-tiba ada seseorang memanggilku.

“Mianh..hh..hh” katanya tersengal sengal setelah berlari kearahku.

Aku mmperhatikannya, sepertinya aku tidak asing dengan baju yang ia kenakan. Aku ingat ! Dia adalah salah satu siswi sekolah yang tadi siang bersamaku!

“Mian ajushi, bisakah kau membantuku?” tanyanya saat nafasnya sudah mulai normal.

Ha? Gadis ini memanggilku dengan sebutan ajushi? Hah! Apa menurut dia aku terlihat setua itu? Bahkan semua temannya tadi siang selalu menempel padaku memanggil dengan panggilan oppa kepadaku. Apa dia gadis yang berbeda? Ah tidak , aku pikir sama, hanya mungkin dia kurang populer.

“Ajushi? Apa aku terlihat seperti Ajushi ?” tanyaku agak nyolot.

“Kajja, kajja ini sudah hampir… aish aku harus memanggilmu apa ?” jawabnya sambil nyolot juga.

“Aish jinja! Panggil aku oppa, oppa ara?! Apa yang bisa aku bantu dan kenapa kau datang kemari lagi?”

“Tolong bawa aku kedalam kuil moon lagi, handphoneku tertinggal disana”

“Baiklah , kajja” jawabku sambil berjalan

“kenapa kau hanya berjalan? Kajja kita harus berlari karena waktunya sudah sangat ..” dia berlari kearah kuil sambil memegang tanganku.

Sepertinya gadis ini agak kurang waras. Kenapa dia bilang waktunya mepet? Padahal kuil ini tutup pukul 8 malam -__-

“Sepertinya Yun haraboji sudah pergi, handphonemu hanya bisa diambil besok” kataku setelah melihat sudah tidak ada cahaya di dalam kuil.

“Aish jinja, aku sangat membutuhkan handphone itu. Mereka akan menghubungiku malam ini jika aku lolos seleksi beasiswa ke Jepang” katanya sambil terduduk lesu.

“Ini dikunci …KREK” tiba-tiba pintu kuilnya bisa dibuka!

“haa…. Terbuka, syukurlah. Mungkin haraboji itu lupa menguncinya. Tapi apakah kita harus masuk ke dalam?” tanyanya lagi.

“Ha? Apa maksudmu? Bukankah handphonemu tertinggal?” kataku heran.

“Iya tapi sekarang sudah hampir pukul 7 malam, dan malam ini adalah bulan purnama..”

“Apa kau takut tahayul ha? Tampangmu dan penampilanmu memang modern, tetapi otakmu masih benar-benar kolot” kataku memotong perkataannya.

“Apa tadi kau bilang? Baiklah aku mau mengambilnya” katanya sambil masuk kedalam.

“Sudah tahu dimana jatuhnya?” tanyaku ikut masuk.

“Kenapa kamu ikut masuk ha?” dia berteriak panik.

“kenapa kamu jadi gelapan seperti itu? Haha tenang saja .Aku bukanlah namja cabul seperti yang kau pikirkan. Aku ikut masuk karena kamu masuk ke situs budaya. Aku takut disalahkan jika ada barang disini yang kau bawa pergi” tukasku.

“Jadi mukaku mirip seperti pencuri ha?”

“Aish jinja yeoja ini, cepat cari handphonemu” kataku sambil membantu mencarinya.

“Ketemu!! Katanya lagi itu dibawah meja itu” dia berteriak sambil berjongkok meraih handphonenya yang terlempar kebawah meja .

“Krekk….” Terdengar suara pakaian sobek.

“Seragamku tersangkut, ajushi..ah mian oppa bisakah kau membantuku?” teriaknya.

“Aish jinja yeoja ini sungguh sangat merepotkanku”

“Apa bisa dilepas? “ tanyanya

“Molla” jawabku yang masih berkutat di roknya yang tersangkut.

“Bagaimana ini” katanya mulai panik lagi.

“tenanglah aku ada ide” jawabku.

Aku langsung mengambil pedang yang ada disebelah kananku untuk membantu melepaskan pengait itu di roknya.

“Mwo!! Apa yang sedang kau lakukan ha? Kenapa kau mengambil pedang itu?” teriaknya ketakutan.

“Apa kau tidak mau kubantu ha?” teriakku sambil mencoba meyobek sedikit roknya dengan pedang itu agar pengaitnya terlepas.

“Sekarang pegang bagian ini dan pedang ini”kataku sambil mengambil pedang yang satunya lagi.

“Michoso!! Apa yang kau akukan dengan kedua pedang ini…………”

JEGLEEERRRRRRRRRRR… Tiba-tiba terdengan suara petir.

“Ki…ta terkena kutukan…….. dewi bulan” katanya dengan suara yang bergetar.

“Mwo? Apa gara-gara suara petir tadi kau bilang kutukan? Haha nona, sudahlah berheti dengan khayalan anehmu itu. Dan seharusnya kau berterimakasih kepadaku karena rokmu sudah tidak tersangkut lagi” cecarku.

“Dewi bulan pasti akan mengutuk kita” katanya lagi dengan muka pucatnya.

MYUNGSOO POV END


NAEUN POV
“Dewi Bulan pasti akan mengutuk kita” kataku lemas.

Baboya ! kenapa aku sedari tadi tidak sadar jika hari ini adalah malam dimana bulan purnama terlihat penuh ! Apa yang harus aku lakukan sekarang?.Tiba-tiba kakiku terasa sangat lemas hingga aku jatuh terduduk. Dan bodohnya namja itu dia hanya terdiam memandangiku.

 Aku masih terduduk dikuil ini mengutuk perbuatan bodohku ini hanya untuk mengambil sesuatu yang harusnya aku tahu akan membawa bencana.

“ Kau tidak mau pulang ha? Ingin disini terus?” katanya membuyarkan lamunanku.

“ Apa kau tidak percaya kutukan?”

“ Tidak , aku tidak percaya”

“ Bagaimana jika kau yang mendapatkan kutukan itu?”

“ Tenang saja , aku ataupun kamu tidak akan mendapatkan kutukan itu “ jawabnya santai sambil menggenggam tanganku dan menariknya keluar.

Bisa bisanya dia setenang itu setelah menghadapi kejadian ini.

NAEUN POV END


TO BE CONTINUE