Kamis, 06 Desember 2012

(series) The Forest of Vampire Chapter 4

Length  : Series (4 of?)
Rate       : PG14
Main Cast            :
  • Cho Kyuhyun (Super Junior)
  • Park Ji Yeon (T-ara)
Support Cast      :
  • Kim Hye Rin (OC) ---> Suster Kim
  • Lee Gikwang (Beast)
  • Jung Eun Ji (A-pink)
  • Ahn Jaehyo (Block-B) --->Kim Jaehyo
  • Lee Sung Min (Super Junior)
  • Super Junior
Point of view     : only  Park ji yeon
Author                  : helloimiga
Back sound         : Lee Ki chan – painful Hope

WARNING!! GAJE DAN BANYAK TYPO!!

…..

/”lebih baik aku mati dari pada aku harus membunuhmu”/

“oppa!! Apakah kau tak mengerti? Kenapa kalian selalu mengatur hidupku! Apakah menurutmu aku ini hanyalah sebuah boneka? Kalian benar benar tak mengerti apa yang aku rasakan selama ini!!” teriakku. Aku tak peduli ini tempat suci atau apalah. Seluruh tubuhku bergetar hebat. Menahan air mata yang akan turun. Ani! Aku tak boleh menangis saat ini.. aku tak ingin terlihat lemah dihadapan mereka semua.

                “Jiyeon kau benar benar…sudahlah hyung… sepertinya Jiyeon ingin diberi waktu sebentar. Jiyeon-a kau tak harus menjawab permintaanku itu sekarang..”

.=.=. The Forest of Vampire Chapter 4 .=.=.

Cih… kalaupun aku mau aku tak akan sudi menjawab permintaanmu itu Lee sungmin. Apakah kau tak pernah sadar bahkan kau telah membuat sebuh luka yang sangat dalam? Tak bisakah kau merasaakan diriku?
Jungsoo oppa menatapku dengan tatapan –ketidakpercayaannya- kau tahu oppa dongsaengmu sudah berubah. Park jiyeon yang dulu telah mati.
                “kenapa kau mengundur ngundur waktumu terus jiyeon-a.. seharusnya kau tahu. Batas pelamaran hanya sampai musm dingin berakhir. Sedangkan musim semi akan datang lusa…”  ckck.. jadi seperti inikah akhirnya? Sungmin melamarku disaat seperti ini.. disaat seperti ini..

                “jiyeon-a sebaiknya kau dan sungmin membicarakan ini,… maksudku, daripada kalian akan menyesal pada akhirnya..” aku menghembuskan nafas berat.. setidaknya apa yang dikatakan Jungsoo oppa ada benarnya.


                “apa maksudmu dengan semua ini?”
                “ini adalah kemauanku sejak dulu jiyeon-a..” sungmin menatapku tajam. Bagaimanapun dia adalah seorang namja. dan tatapannya kali ini membuat err… bulu kudukku sedikit berdiri. Dia tidak pernah menatapku sampai seperti ini. bahkan saat dia marah padaku dia tidak sampai menatapku semengerikan ini.
                “aku mencintaimu! Tak bisakah kau melihatku walau hanya sedetik saja?!!!” nafasku tercekat. Sungmin baru saja berteriak dihadapanku. Kenapa dia sampai seperti ini. bibirku bergetar dengan hebat dan secepet itu pula aku menggigit bibirku agar Sungmin tidak tahu apa yang terjadi padaku saat ini –aku takut dengannya.

                “kau tak bisa seperti ini Jiyeon-a,.. setelah kau mengetahui bahwa gikwang mencintaimu lalu kau dengan mudahnya bersamanya? Tidak! Kau harus tahu bahwa dia sudah terikat dengan Eunji.. dan ikatan itu bukan sekedar main main Jiyeon-a!”
Mungkin seandainya aku tak mengigit bibirku saat ini, Sungmin dapat mendengar suara isakanku. Menangis? Yah aku ingin menangis. Mencoba mengumpulkan beberapa kekuatanku untuk membendung semua air mata yang dengan mudahnya akan mengalir jatuh dari mataku..

                “jiyeon!! Tak bisakh kau melihatku… tak bisakah kau melihat Lee Sungmin? Bukan Lee gikwang!!” Sungmin mencengkram bahuku kuat. Menghentakkan kedua bahuku kasar. Sakit lee Sungmin.. tapi hatiku sekarang lebih sakit bila kau ingin tahu..
                “Sung…sungmin-a…neomu appeo..”
                “a..appo?” dia menatapku lama.. dia bukan Sungmin yang dulu.. dia dia berbeda
                “kau bahkan tak pernah merasakan sakit yang aku rasakan Jiyeon-a… dan seharusnya kau juga bisa merasakan. Saat aku tahu kau mencintai gikwang aku memang tak terlalu mempersalahkannya,, tapi kenapa kau harus bersama seorang Vampire…” sungmin menggantung kalimatnya… bersama Vampire? Apa maksudnya

                “siapa Vampire yang kau temui kemarin malam Jiyeon-a..” dadaku bergerumuh cepat. Apakah sungmin melihatku bersama Kyuhyun.
                “kemarin, suster Kim memanggilku dan berbicara bahwa kau dibawa seorang Vampire yang aku tahu dia baru saja memberontak di desa.. tanpa pikir panjang aku langsung berlari kebukit untuk mencarimu. Tapi disaat aku sampai sana aku menemukanmu…tapi..” Aku tak berani mendengar kalimat selanjutnya.. jadi malam itu dia melihatku?

                “aku ingin menyerang Vampire yang ada didekatmu itu, karena menrutku aurnya sangat mengerikan… lalu, tiba tiba aku melihatnya.. mmm menciummu, bahkan kau tak menolaknya.. aku selalu berpikir bahwa aku tau segala tentang dirimu. Tapi malam itu, aku tak menger..”
                “cukup!! Aku tak perlu mendengar ceritamu lee sungmin..”
                “jadi kau lebih memilih Vampi..”
                “bukankah aku sudah bilang!! Cukup lee Sungmin!!”
                “apakah perlu aku berbicara pada suster Kepala kim?”
                “apakah kau tak mendengarku Sungmin?”
                “lalu pernahkah kau mendengar hatiku?” Hatiku mencelos, yah.. aku memang salah, aku bahkan tak pernah menggubrisnya bahkan selalu menyalahkannya dengan apa yang aku alami akhir akhir ini. Aku jahat? Terserah apa yang kalian pikirkan denganku.

                “tak perlu kau menjawabnya aku juga sudah tahu. Aku tak ingin memaksamu Jiyeon-a,.. aku hanya ingin mengungkapkan semua yang ada dalam hatiku saat ini. Aku tak ingin selalu menangis dalam diam. Merasakan semua beban yang aku pikul. Sering merasakan bahwa Tuhan tidak sayang padaku.”
Sungmin melepaskan cengkramannya. Menepuk nepuk pipiku dengan lembut lalu menyunggingkan senyumnya. Tapi saat dia ingin melenggang pergi aku tarik tangannya… entah ini sebuah keputusan yang benar atau tidak. Tapi aku rasa aku harus melakukan ini semua.
                “Sungmin-ah..”
                “wae..?”

                “baiklah aku akan menerimamu..”
                “nde?”
                “aku bersedia menikah denganmu asal kau tak bercerita tentang emm… Vampire itu pada siapapun. “ aku menatap was was kearahnya takut takut dia akan menolakku. Aku harus melakukan ini. aku tak ingin terjadi sesuatu dengan penduduk desa ahh lebih tepatnya aku takut akan terjadi sesuatu dengan…kyuhyun? Apakah aku mulai gila karena aku mencoba mengkhawatirkannya..? oh tuhan maafkan hambamu ini..

                “apakah kau terlalu mencintai Vampire itu.. apakah ini forbidden love? Apakah saat kau sekolah kau tak pernah mendengar para guru itu bercerita? Apakah kau selalu tidur saat pelajaran Sejarah dimulai? Vampire dan manusia itu berbeda..”
Perkataan sungmin barusan membuat sebuah petir menyambar hatiku detik ini juga. Sakit dan terasa bagaikan ditusuk oleh duri duri tajam. Sebuah kalimat sederhana yang dapat membuat hatiku terasa terkoyak dan melewati dengan bebasnya gendang telingaku. Aku bahkan tidak munafik.. aku mencintai Kyuhyun? Apakah aku harus mengaku pada diriku sendiri sekarang? Yah aku mencintainya,,

                “tapi kalau itu yang kau mau jiyeon-a… aku melakukan ini karena aku mencintaimu. Dan kau harus tahu.. kalau kau harus pergi meninggalkannya…”


Aku meringkuk pelan pada kasurku. Membenamkan kepalaku diatas bantal. Kata kata sungmin tadi sore terus mengiang ngiang dikepalaku. Mengulag ngulang bagaikan tape recorder yang rusak. Dan tak pernah lepas bahkan setelah aku mencoba untuk melupakannya. Sesulit apa aku tidak memikirkannya malah membuatku semakin ingat.
                “aaahhhh…!!” teriakku akhirnya.. pertahananku luruh juga. aku menangis.. membuat bantal dibawah kepalaku itu basah. Aku ingin telingaku tuli saja agar aku tak dapat mendengar suaranya terus. Atau bahkan aku ingin hatiku mati agar aku tak dapat merasakn lagi sakit, senang, perih dan semua perasaan yang selalu menghadangiku.

                “Jiyeon-a… sesuatu yang terjadi didunia ini adalah sebuah pilihan dan semuanya pasti ada alasannya kenapa harus terjadi..”

Nasihat Ibu tiba tiba terngiang dikepalaku. Angin musim dingin terakhir ini sudah tak terlalu dingin namun masih dapat membuat bulu kudukku meremang. Jendela yang sengaja aku tidak tutup itu berhias pemandangan yang menghadap lagsung ke hutan gelap itu. Hutan para Vampire itu.

Sudah hampir dua hari aku tidak bertemu Kyuhyun. Rindu? Sangat… wajahnya yang tampan dan senyumnya yang memabukkan itu tak akan pernah hilang melayang layang dipikiranku.

                “jiyeon-a, janganlah memaksakan sesuatu. Kau tahu… semua orang disampingmu itu menyayangimu. Mereka tak mau kau kenapa napa. Jadi kau harus menjaga dirimu sendiri dan semua yang terjadi tuhan pasti telah menggariskannya sejak dulu…”

Aku mengambil nafas berat, perkataan Gikwang tempo hari masih mendengung dengan tidak sopannya ditelingaku. Huh,.. beginikah akhir dari hidupku? Vampire dan manusia memang tak ditakdiran bersama walau mereka saling mencintai… begitu juga deganku dan Kyuhyun. Walau aku masih ‘sedikit’ tidak percaya tapi akal sehatku terkalahkan oleh hatiku.
                “Kyuhyun babo!! Kenapa kau bisa masuk dalam hariku!!” pekikku sambil mengacak acak rambutku sendiri.


Akhirnya aku bisa membujuk suster Kim untuk keluar hari ini. tepat pada hari ketiga musim semi tahun ini. yah walau sebenarnya aku harus membohonginya. Secepatnya aku harus berbicara pada Kyuhyun. Karena aku tak ingin memberi sebuah harapan untukknya –walaupun aku tahu kalau aku juga menyukainya.

                “sepertinya ada sesuatu hal yang membuatmu tergesa gesa datang kemari Park jiyeon..” Kyuhyun sudah dihadapanku dengan pakaian yang sama saat kami terakhir kali bertemu –jubah hitam menjuntai sampai kekakinya. Bahkan aku sampai tidak dapat melihat kakinya..
                “mmm…. Kyuhyun-a.. aku… na..nado johae…”
                “joha? Bukankah aku tak mengungkapkan aku menyukaimu?” aku kaget saat Kyuhyun berbicara seperti itu. Matanya yang merah terlihat mengkilat kilat. Apakah dia marah padaku?

                “sarang…. Bukankah aku mengingkapkan kalau aku mencintaimu. Saranghaeyo park jiyeon. Jeongmal saranghaeyo…” Kyuhyun menggenggam tanganku. Aku ..aku mencintainya tapi..
                “jadilah milikku jiyeon-a.. bukankah kita saling mencintai? Kau tidak percaya padaku?” gengaman tangannya semakin kuat. Membuatku sedikit eemmm ….takut dengannya. Hari ini kyuhyun tidak seperti biasanya. Aura yan dia pancarkan hari ini sangat kuat dan menakutkan. Apakah seharusnya hari ini aku tak harus bertemu kyuhyun?

                “wae? Kau takut padaku?”
                “Park jI Yeon kau takut padaku bukan!!!” akhirnya dia berteriak. Membuatku benar benar merinding sekarang. Kyuhyun-a apa yang terjadi denganmu.

                “bukankah kau mau meninggalkanku dan menikah bersama manusia itu.. Lee Sungmin? Kau mau meninggalkanku bukan Jiyeon-a..” nada suaranya sedikit melemah, aku dapat melihatnya sedang menundukkan kepalanya. Begitukah dia marah padaku gara gara ini semua?
                “nde… kau tahu? Saat aku mengetahui kau ingin datang menemuiku aku bahagia Jiyeon-a.. sangat bahagia. Tapi setelah tidak sengaja aku mendengar kau mmm…akan meninggalkanku aku tak tahu harus berbuat apa apa. Aku tidak pernah merasakan sesuatu yang membuat hatiku sakit seperti ini. Ini semua membuatku tak mengerti kita saling mencintai. Tapi kita tak bisa bersama…”
                “Jiyeon-a. mungkinkah bila aku bukan vampire kau mau bersamaku. Hidup bahagia denganku?” ucapan Kyuhyun membuat hatiku tertohok. Sakit rasanya namun apa daya. Aku tak bisa membiarkan sungmin memberitahukan kepada yang lainnya tentang aku dan kyuhyun.

                “sungmin? Jadi dia sudah tahu tentang diriku?”
                “nde? Kau membaca pikiranku?”
                “pikiranmu melayang layang ditelingaku Jiyeon-a..” kyuhyun meletakkan kedua tanganya didepan dadanya. Menatapku lama sekali membuatku seperti tidak dapat menggerakkan tubuhku sendiri. Kekuatan matanya seperti menghipnotis diriku sendiri. Bila kau merasakannya tatapan matanya seperti menjeratmu dan sulit sekali untuk berpindah.

                “tapi itu tidak sopan kyuhyun-a…”
                “hahahhaha… sekarang kau yang marah terhadapku Jiyeon!! Seharusnya aku yang marah!!”
                “aku tak peduli Tuan Vampire.. kalau begitu hubungan kita selesai sampai sini,…” aku tak peduli dia bisa membaca pikiranku atau tidak. Yang jelas aku senang dia marah padaku. Setidaknya dengan begini dia akan meninggalkanku.

                “aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Walaupun aku marah sekalipun denganmu.. seharusnya kau tau. Semuanya yang aku inginkan selalu jadi milikku… tak akan aku biarkan kau lepas dariku Jiyeon-a…..” dia mengambil nafas berat lalu melanjutkan kembali kalimatnya
                “walaupun aku harus meng-halalkan berbagai cara..”
                “mwo?”
                “aku tak mungkin melepaskan dirimu. Seharusnya kau tahu itu jiyeon-a… sekali kau memasuki kehidupanku. Kau akan sulit untuk keluar.” Sebuah sayap muncul dari punggungnya. Seperti punya jaehyo dulu namun lebih besar dan lebar. Dia kepakkan sayapnya lalu pergi meninggalkanku. Meninggalkan diriku yang masih melihat sayap hitamnya terbang masuk hutan.

                “mianhae Kyuhyun-a..” batinku. Aku harap dia dapat mendengarnya. Aku harap dia dapat membaca pikiranku sekarang juga. Aku harap… dia mendengarnya. Cho kyuhyun nado jeongmal saranghae.


Aku meremas gaun malamku kuat kuat. Suara teriakan itu! Itu suara ibu!! Aku melewati anak tangga anak tangga yang entah sampai mana ujungnya. Aku hanya bisa mengikuti arah suara Ibuku yang meronta itu.
Bahuku bergetar hebat saat sampai puncak yang baru aku ketahui itu adlah sebuah menara. Disana dia. Ibuku.. seseorang yang sangat amat aku cintai bahkan diriku sendiri. Dia dikurung bagaikan sebuah binatang. Sebuah tali dicamukkan kebadanya oleh seseorang yang tidak aku kenal.

                “kau sudah datang jiyeon-a..?” suara iitu… suara yang baru saja masuk kegendang telingaku itu.
                “Cho..Cho kyuhyun?”

Dia berjalan menuju ibu yang sudah tidak berdaya itu. Mengambil tali dari para penjaga yang sejak tadi terus mencambuki Ibuku. Kyuhyun memamerkan senyum sinisnya membuatku sedikit bergidik ngeri. Menggigit bibir bawahku untuk menahan tangisku. Rasanya ingin menangis dan berteriak namun suaraku tertahan.

                “ahhh apakah kita harus memanggil orang itu?” kata Kyuhyun tiba tiba. Dia menunjukkan wajah innocentnya lalu memberi sebuah kode kepada pengawal yang ada disampingnya.
                “apakah kau masih mengingat teman lamamu? Cinta pertamamu!!” cinta pertama? Pengawal Kyuhyun datang sambil menarik seorang namja yang sangat aku kenal. Benar dia cinta pertamaku. Lee Gikwang. Apa yang akan Kyuhyun lakukan terhadapnya!!

                “huwaaa... Lee Gikwang...!!” Kyuhyun melempar tali yang digunakannya untuk mencambuk Ibu tadi. Lalu mengambil sebuah pedang yang bertengger manis disamping pinggangnya.
                “sepertinya hari ini kita akan menyaksikan sebuah kematian...” Kyuhyun menekankan kalimatnya pada kata kematian. Membua air mataku mengalir detik itu juga. Merasakan hatiku yang terasa seperti dicabik cabik dengan paksa. Kyuhyun menampakkan sebuah senyumnya. Mengangkat pedangnya lalu dia tujukan pada Gikwang.

                “ANDWAEEE!!!”

...

                “ANDWAEEE!!”
Keringat muncul dengan derasnya dari kepalaku. Tidak! Itu bukan mimpi seperti biasa. Bahkan mimpi itu terasa sangat nyata. Bahkan aku merasakan sensasi nyeri yang sangat sakit pada bibir bawahku dan yang aku tahu itu karena aku menggigit bibir bawahku. Aigoo... apa yang terjadi sebenarnya

                “Jiyeon-a!!” aku melihat pintu kamarku dibuka tiba tiba. Nampak wajah Suster Kim yang langsung berlari menghampiriku
                “gweanchana? Aku mendengarmu teriak jadi aku kemari”
                “...” aku masih mencoba mengumpulkan sisa sisa kesadaranku saat itu juga. Bingung aka menjawab apa. Aku tidak baik baik saja karena mimpi itu seperti nyata dan nyatanya sat ini aku baik baik saja.

                “Jiyeon-a...ya! neo gweanchana..” aku angguk anggukan kepalaku untuk menjawab pertanyaan Suster Kim. Dia mengulas sebuah senymunya sekilas lalu menepuk nepuk pundakku sekilas.
                “jangan terlalu memikirkan masalahmu dan Sungmin...” dia menggantung perkataannya lalu melanjutkan lagi
                “terkadang pernikahan itu tidak didasari oleh cinta. Kau harus mengerti semua ini. maksudku kau harus bisa mengiklhaskannya. Bukannya cinta bisa tumbuh kapan saja?”

                “nde..”
                “ohh ya Suster Kim, sejak kapan pernikahan itu didasari oleh sebuah komitmen. Bukan karena cinta...??”

                “mmmm.... sejak masa pemberontakan tentu saja. Seharusnya kau tahu. Mereka adalah mahluk abadi. Sulit mati, sedangkan kita? Para Manusia tidak hanya memiliki satu musuh. Para Vampire bukanlah musuh satu satunya manusia. Para manusia harus melawan umur mereka, penyakit, dan tentu saja mereka harus membuat generasi penerus mereka...” Suster Kim menghembuskan nafasnya berat, lalu menatap hutan para Vampire yang terekspos jelas dari jendela kamar

                “mungkin para nenek moyang kita berpikir bahwa pernikahan yang didasari cinta akan memperlambat manusia untuk menikah, karena tentu saja orang orang akan mencari orang yang mereka cintai. Bahkan terkadang terjadi sebuah persaingan... bukankah begitu?”

                “ahhh..begitukah?”
                “ahh ya suster Kim, apakah kau pernah menyukai seseorang?” Suster Kim memandangku dengan matanya yang sipit. Lalu menyinggungkan sebuah senyum membuat matanya hanya menampakkan sebuah garis lurus.

                “tentu saja, jatuh cinta adalah perasaan yang membuat semuanya menjadi indah, begitukan?”
                “lalu, apakah laki laki yang kau sukai itu masih ada? Maksudku apakah dia masih ada disini?”
                “tentu saja, bahkan hampir setiap hari aku melihatnya bersama istrinya,,,”
                “dia sudah menikah?” Suster Kim mengangguk, aku tahu senyumnya itu adalah sebuah senyum yang dia paksakan. Kau terlihat jelek bila seperti itu suster Kim

                “ada seseorang yang mengatakan padaku bahwa semuanya tak perlu dipaksakan Suster. Bahkan senyum sekaligus...”
                “arraseo...”

...

Eunji melambai lambaikan tangannya kearahku. Dia memang mengajakku untuk bertemu bersama. Dia lebih cantik daripada terakhir kami bertemu. Senyum yang selalu tampak manis itu merekah begitu saja saat dia melihatku yang sedang berjalan kearahnya. Aku jadi ingat pertama kita bertemu saat itu ibunya melarangku untuk menemui anaknya namun karena kecilnya desa kami membuat aku dan Eunji malah sering bertemu dan pada akhirnya Ibunya tidak mempermasalahkan lagi.

                “bagaimana kabarmu?”
                “baik baik saja... ohh ya aku dengar mmm kau menolak ajakan sungmin... begitukah?”
                “tidak,,.. aku sudah menyetujuinya...”
                “owhh...”

Dia menggoyang goyangkan kakinya kedepan dan kebelakang. Memejamkan matanya menikmati angin yang melayang layang melewati rambut kami.

                “kau harus melupakan Gikwang Jiyeon-a... seharusnya kau tahu. Kau tidak boleh mengecewakan Sungmin...” Eunji memainmainkan tangannya. Kebiasaan yang selalu dia lakukan disaat sedang gugup. Aku tersenyum kecil
                “sedang aku usahakan.,,”

Tidak ada percakapan antara kami setelah itu, dia lebih memilih diam sambil menikmati udara disekitar Katedral ini. menggoyang goyangkan kepalanya kekanan dan kekiri seperti orang yang sedang mendengarkan musik..
“sebenarnya aku menyukai Sungmin, tapi aku…” mataku membulat dengan sempurna saat mendengar perkataan Eunji barusan. Dia mengigit bibir bawahnya.
“saat Gikwang sedang ada di Katedral, kami melewati waktu bersama dan aku baru tahu kalau aku menyukainya... sangat menyukainya... bahkan aku tahu kalo sebenarnya aku mencintainya...” mata Eunji terlihat memerah, aku pikir dia sebentar lagi akan menangis jadi aku menariknya dalam pelukanku.

“saat itu dia berbicara bahwa dia mencintaimu.. dia tidak dapat membawamu pada musim panen kemarin karena dia takut kamu akan menolaknya... dia merasa bersalah terhadapmu Jiyeon-a. Jadi dia baru bisa melamarmu kemarin. Kau tahu dia sangat mencintaimu bahkan lebih dari kau mencintai Gikwang,,...”

...

Aku melihat beberapa pengawas berlarian menuju katedral. Bahkan aku sempat melihat Gikwang yang notabenya bukan pengawas juga masuk ke Katedral dengan cepat. Entah apa yang membawaku akhirnya aku juga masuk untuk melihat apa yang terjadi.
Beberapa Biarawatipun masuk sambil membawa perlengkapan yang biasanya mereka gunakan untuk mengobati seseorang. Apakah ada yang terluka? Atau ada yang diserang Vampire?

                “Gikwang-ah apa yang terjadi?” Gikwang langsung menghambur kepelukanku. Dan aku merasa bahwa pundakku sedikit basah. Apakah Gikwang menangis..
                “Gikwang waeyo!!??”
                “Sungmin...sungmin hyung, dia dia...hiks...dia diserang Vampire...”

TBC

*preview next part

                “besok adalah hari ulang tahunku yang ke 20”
                “jadi kau yang membuat Sungmin seperti itu?”
                “Vampire Hunter?”
                “jadi Jungsoo oppa bukan oppa kandungku?”

0 komentar:

Posting Komentar